Langsung ke konten utama

Mijiling Kidung Kampung


Menuju Hatedu Semarang 2019 (bagian 3)
   
Setelah melalui proses Rembug beberapa kali yang diberi label “Sarasehan Menuju Hatedu Semarang 2019”, Masyarakat  Pegiat Teater Semarang melahirkan beberapa kesepakatan. Mulai dari konsep, konten, serta waktu dan lokasi pelaksanaan Hatedu Semarang 2019 Titik Kumpul 3.

Pelaksanaan Hatedu Semarang 2019: Titik Kumpul 3 disepakati akan digelar di Kampung Ngadirgo, Kecamatan Mijen. Waktu pelaksanaan hari Jumat-Minggu, 29-31 Maret 2019. Tema yang diusung dalam gelaran Titik Kumpul 3 ini adalah "Mijiling Kidung Kampung". Tujuannya adalah melahirkan kelompok teater kampung, langkah awal dengan teknik pendampingan.

Panitia pelaksana adalah gabungan dari beberapa unsur, seperti Fotkas, Komite Teater Dekase, guyub TBRS, Kelompok Budaya, Seni, Pemuda, Remaja atau Karang Taruna kampung yang peduli. Kampung yang terlibat dalam peringatan Hatedu Semarang 2019 meliputi Kampung Ngadirgo (Kecamatan Mijen), Kandri (Gunungpati), Kalialang (Gunungpati), Jatiwayang  (Semarang Barat), dan Sendangguwo (Tembalang).

Perform atau pertunjukan menjadi salah satu konten acara. Warga kampung diprioritaskan selain tentunya perform dari teater-teater kampus dan komunitas lain di Semarang. Khusus Teater Kampung ditekankan mengangkat potensi lokal (kampung) untuk digarap.

Mijiling Kidung Kampung

Menjadikan kampung sebagai obyek pun subyek. Observasi, pengamatan, pendataan, pemetaan potensi yang ada di kampung (alam maupun manusianya), adalah langkah awal yang mesti dilakukan. Meracik, meramu, mengkolaborasi, menjadikan sesuatu yang harmoni, estetis, artistik, enak dilihat atau dipandang, didengar dan dirasakan. Bisa dinikmati publik, adalah proses selanjutnya. Inilah Kidung Kampung.

Aroma selokan (got), aroma bangkai werok, hiruk pikuk suara kendaraan, kepengepan udara, rasa air PAM, dan sebagainya. Persoalan kelahiran, pernikahan, sakit dan kematian. Miskin dan kaya. Agama dan ras. Latar belakang sosial maupun alam, memunculkan peradaban yang khas disuatu kampung. Semarang, ada masyarakat nelayan (pesisir), petani (gunung), buruh, pegawai, pedagang.
Suara gemricik air sungai maupun sawah. Hembusan angin menerpa dedaunan, aroma kotoran binatang peliharaan, bunga padi, kopi, durian yang mekar. Asap jerami, ilalang, sekam. Kicau burung di pepohonan, sapi mengeluh, kambing mengembik. Adalah nuansa pedesaan, yang dirindukan masyarakat kota. Dan di Semarang yang notabene Kota Metropolis, masih punya itu.

Kesemuanya itu adalah bahan yang siap diramu, diracik, dikolaborasi, menjadikan sesuatu yang harmoni, estetis, artistik, enak dilihat/dipandang, didengar dan dirasakan. Hatedu Semarang 2019 adalah ruang, untuk memunculkan, menumbuhkan, melahirkan suatu karya dalam bentuk pertunjukkan (teater), yang berakar dari potensi yang ada. Jika merujuk pada tembang (sekar) macapat, inilah yang disebut Mijil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LARON - LARON

LARON – LARON Karya  Prie GS Para Pemain : Mursyid Laron Sepuh Bujang Laron 1 Laron 2 Laron 3 Laron 4 Laron 5 DI SEBUAH KURSI RODA / GOYANG LARON SEPUH TERBARING DENGAN PAYAH MENUNGGU MATI. DIA HANYA DITUNGGUI OLEH LARON BUJANG, ABDI SETIANYA. MEREKA SEPERTI HIDUP DALAM SEBUAH RUANG KACA / INSTALASI TERSENDIRI. SEMENTARA DI LUARA SANA TERDAPAT ANEKA LARON MURID YANG BEBAS MEMANDANG DAN BERKOMENTAR SECARA LELUASA TANPA LARON SEPUH MENGETAHUI. SEMENTARA LAKON MURSYID DUDUK TERPISAH DENGAN TENANG. (tembang) Lir ilir lir ilir, tandure wis sumilir Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi Luyu-luyu penekno kanggo mbasuh dadat ira Dadat ira dadat ira kumitir bedah ing pinggir Damana jlumatana kanga seba mengko sore Mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane yen soraka sorak hore ! BERSAMA DENGAN TEMBANG ITU LARON-LARON MURID MENGENDAP-ENDAP MELIHAT APAKAH LARON SEPUH BENAR-BENAR...

NYANYIAN PELANGI

NYANYIAN PELANGI Oleh Catur “Babahe” Widya Pragolapati Naskah ini pernah dipentaskan oleh Teater Merah Putih SMA Nasima Semarang pada 2009 dalam ''Gaul Teater'' yang diselenggarakan Teater Rumah Kedua (Ruke) SMA Sultan Agung 1 Semarang. Teater Ruke juga pernah mementaskannya. Dan pada 2013 dipentaskan Teater Simpai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. ADEGAN SATU Panggung gelap. Alunan Musik (vokal), “Ibu Pertiwi” diulang beberapa kali. Pemain masuk dari kiri/kanan Panggung, membawa lilin, menyala. Kemudian membuat formasi, di dalam panggung. Pelangi Satu: Namaku Pelangi... sebenarnya aku sekolah hanya mengikuti kehendak ortu. Aku sendiri sebenarnya sudah bosan, karena sekolah pelajarannya begitu-begitu saja.  (meniup lilinnya) . Pelangi Dua: Namaku Pelangi... pada awalnya aku semangat mengikuti pelajaran. Lama-lama semangatku memudar. Teman-teman selalu menggantungkan diri padaku. Mengerjakan tugas, piket, dan kadang ulangan harian. Aku meras...

PERJUMPAAN DI TEPI JALAN

PERJUMPAAN DI TEPI JALAN:  MEMBACA RUANG BER-ADA  (oentoek semarang, kota tertjinta oentoek emka, teman-teman tertjinta)  Karya :  Teater Emka  Para pemain:  Super-Man  Pandanaran  Laki-laki  Perempuan  Orang-orang  Babak I  Sebuah ruang, sebuah jalan (di-mana-mana, di-manapun). Orang-orang berlalu-lalang, merasa harus menghilang. Orang-orang membawa barang. Bergegas. Berlari. Bertopeng. Ada yang tertinggal. Kelupaan. Saya juga lupa, apakah hari itu siang atau sudah petang. Yang jelas, jam terus berdentang dan kaki masih berlari. Seperti ribuan derap sia-sia, suara-suara itu menyembul sebagai “kegelisahan yang hening” lalu menghunus keberadaan kita.  Gemuruh, di antara senyap di sana dan senyap di sini. Hening, di antara gemuruh di sana dan gemuruh di sini. Lamat terdengar tembang mengalun, mengajak kita meronta.  Koor  Kang ingaran urip mono mung jumbuhi...