Langsung ke konten utama

LARON - LARON

LARON – LARON

Karya Prie GS

Para Pemain :

Mursyid
Laron Sepuh
Bujang
Laron 1
Laron 2
Laron 3
Laron 4
Laron 5

DI SEBUAH KURSI RODA / GOYANG LARON SEPUH TERBARING DENGAN PAYAH MENUNGGU MATI. DIA HANYA DITUNGGUI OLEH LARON BUJANG, ABDI SETIANYA. MEREKA SEPERTI HIDUP DALAM SEBUAH RUANG KACA / INSTALASI TERSENDIRI. SEMENTARA DI LUARA SANA TERDAPAT ANEKA LARON MURID YANG BEBAS MEMANDANG DAN BERKOMENTAR SECARA LELUASA TANPA LARON SEPUH MENGETAHUI. SEMENTARA LAKON MURSYID DUDUK TERPISAH DENGAN TENANG.

(tembang)
Lir ilir lir ilir, tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi
Luyu-luyu penekno kanggo mbasuh dadat ira

Dadat ira dadat ira kumitir bedah ing pinggir
Damana jlumatana kanga seba mengko sore
Mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane yen soraka sorak hore !

BERSAMA DENGAN TEMBANG ITU LARON-LARON MURID MENGENDAP-ENDAP MELIHAT APAKAH LARON SEPUH BENAR-BENAR SUDAH MATI.

1.   Laron 1            :  Sudah mati !

2.   Laron 2            :  Sstt… Jangan mati. Meninggal !

3.   Laron 3            :  Wafat !

4.   Laron 4            :  Mangkat !

5.   Laron 5            :  Sssstttt… Tewas !

LARON-LARON PADA RIBUT TAK KARUAN, MEREKA MEMPERTAHANKAN ARGUMENNYA SENDIRI-SENDIRI. AKHIRNYA MEREKA LARI KE ARAH MURSYID.

6.   Laron 1            :  Wahai Mursyid ! Bagaimana ini. Hanya untuk menyebut kata mati saja laron-laron murid ini sudah berselisih paham.


7.   Laron 2            :  Iya, wahai Mursyid ! Kenapa kita murid satu Mursyid saja sudah begini gampang berselisih paham. Lalu bagaimana dengan para murid yang lain ya Mursyid ! Bagaimana pula dengan perbedaan para Mursyid ! Jangan biarkan kami dikacaukan oleh perbedaan ya Mursyid.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

NYANYIAN PELANGI

NYANYIAN PELANGI Oleh Catur “Babahe” Widya Pragolapati Naskah ini pernah dipentaskan oleh Teater Merah Putih SMA Nasima Semarang pada 2009 dalam ''Gaul Teater'' yang diselenggarakan Teater Rumah Kedua (Ruke) SMA Sultan Agung 1 Semarang. Teater Ruke juga pernah mementaskannya. Dan pada 2013 dipentaskan Teater Simpai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. ADEGAN SATU Panggung gelap. Alunan Musik (vokal), “Ibu Pertiwi” diulang beberapa kali. Pemain masuk dari kiri/kanan Panggung, membawa lilin, menyala. Kemudian membuat formasi, di dalam panggung. Pelangi Satu: Namaku Pelangi... sebenarnya aku sekolah hanya mengikuti kehendak ortu. Aku sendiri sebenarnya sudah bosan, karena sekolah pelajarannya begitu-begitu saja.  (meniup lilinnya) . Pelangi Dua: Namaku Pelangi... pada awalnya aku semangat mengikuti pelajaran. Lama-lama semangatku memudar. Teman-teman selalu menggantungkan diri padaku. Mengerjakan tugas, piket, dan kadang ulangan harian. Aku meras...

PERJUMPAAN DI TEPI JALAN

PERJUMPAAN DI TEPI JALAN:  MEMBACA RUANG BER-ADA  (oentoek semarang, kota tertjinta oentoek emka, teman-teman tertjinta)  Karya :  Teater Emka  Para pemain:  Super-Man  Pandanaran  Laki-laki  Perempuan  Orang-orang  Babak I  Sebuah ruang, sebuah jalan (di-mana-mana, di-manapun). Orang-orang berlalu-lalang, merasa harus menghilang. Orang-orang membawa barang. Bergegas. Berlari. Bertopeng. Ada yang tertinggal. Kelupaan. Saya juga lupa, apakah hari itu siang atau sudah petang. Yang jelas, jam terus berdentang dan kaki masih berlari. Seperti ribuan derap sia-sia, suara-suara itu menyembul sebagai “kegelisahan yang hening” lalu menghunus keberadaan kita.  Gemuruh, di antara senyap di sana dan senyap di sini. Hening, di antara gemuruh di sana dan gemuruh di sini. Lamat terdengar tembang mengalun, mengajak kita meronta.  Koor  Kang ingaran urip mono mung jumbuhi...