Langsung ke konten utama

Mengapa Kampung?

Masyarakat pegiat teater Semarang bersama anggota Sanggar SKAK berkeliling kampung Ngadirgo, Mijen.

Menuju Hatedu Semarang 2019 (bagian 2)

Diskusi atau sarasehan berlabel “Menuju Hatedu Semarang 2019” pertama telah mengerucut pada “Migrasi Teater Kampus ke Kampung”. Mengapa teater kampus harus migrasi ke kampung dan kenapa harus kampung, sedikit banyak telah terjawab dalam diskusi pertama dan diperkuat lagi pada diskusi kedua.

Istilah tersebut tidak muncul seketika tetapi berangkat dari kegelisahan seniman teater Semarang. Kegelisahan itu bahwa puluhan tahun di kota Atlas minim adanya kelompok teater di luar kampus. Upaya untuk menepis itu selalu ada. Berkali-kali juga hal itu menjadi topik obrolan, baik serius maupun santai.

Menyoal teater Semarang, tak bisa dipungkiri adalah teater kampus. Di awal tahun 2000an, geliat teater kampus mulai tampak. Sebagai motor penggeraknya adalah pelaku teater kampus yang tergabung dalam komunitas SAS (Sasi Ageng Semarang). Seperti yang kita ketahui, masyarakat kampus tidak akan bertahan lama. Pada suatu waktu, warganya harus meninggalkan kampus (lulus atau entah). Ini terjadi juga pada SAS.

Begitu warga SAS hilang dari kampus, kegiatan teater kampus pun mengendor. Tak selang waktu lama lahir sekelompok manusia kampus, membentuk sejenis, dengan nama Fotkas (forum teater kampus semarang). Begitu seterusnya hingga Fotkas masih bertahan sampai saat ini.

Kembali lagi pada teater di luar kampus, upaya menepis teater di luar kampus (teater kampung) di Semarang sepi (tak ada) selalu tumbang. Hal itu dilakukan tak hanya sekali dua kali. Kalaupun ada hanya seumur jagung.

Meskipun berkali-kali tumbang, seniman teater Semarang belum kapok. Menumbuhkan teater kampung masih menjadi impian. Hal itulah yang mendasari munculnya gagasan Migrasi teater Kampus ke Kampung. Upaya ini akan diangkat dalam prosesTitik Kumpul 3 Hatedu Semarang 2019.

Semua elemen dan seniman teater Semarang, termasuk Fotkas, bekerja sama dalam mewujudkan upaya menumbuhkan teater kampung di Semarang. Melahirkan teater di tengah masyarakat (kampung).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LARON - LARON

LARON – LARON Karya  Prie GS Para Pemain : Mursyid Laron Sepuh Bujang Laron 1 Laron 2 Laron 3 Laron 4 Laron 5 DI SEBUAH KURSI RODA / GOYANG LARON SEPUH TERBARING DENGAN PAYAH MENUNGGU MATI. DIA HANYA DITUNGGUI OLEH LARON BUJANG, ABDI SETIANYA. MEREKA SEPERTI HIDUP DALAM SEBUAH RUANG KACA / INSTALASI TERSENDIRI. SEMENTARA DI LUARA SANA TERDAPAT ANEKA LARON MURID YANG BEBAS MEMANDANG DAN BERKOMENTAR SECARA LELUASA TANPA LARON SEPUH MENGETAHUI. SEMENTARA LAKON MURSYID DUDUK TERPISAH DENGAN TENANG. (tembang) Lir ilir lir ilir, tandure wis sumilir Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi Luyu-luyu penekno kanggo mbasuh dadat ira Dadat ira dadat ira kumitir bedah ing pinggir Damana jlumatana kanga seba mengko sore Mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane yen soraka sorak hore ! BERSAMA DENGAN TEMBANG ITU LARON-LARON MURID MENGENDAP-ENDAP MELIHAT APAKAH LARON SEPUH BENAR-BENAR...

NYANYIAN PELANGI

NYANYIAN PELANGI Oleh Catur “Babahe” Widya Pragolapati Naskah ini pernah dipentaskan oleh Teater Merah Putih SMA Nasima Semarang pada 2009 dalam ''Gaul Teater'' yang diselenggarakan Teater Rumah Kedua (Ruke) SMA Sultan Agung 1 Semarang. Teater Ruke juga pernah mementaskannya. Dan pada 2013 dipentaskan Teater Simpai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. ADEGAN SATU Panggung gelap. Alunan Musik (vokal), “Ibu Pertiwi” diulang beberapa kali. Pemain masuk dari kiri/kanan Panggung, membawa lilin, menyala. Kemudian membuat formasi, di dalam panggung. Pelangi Satu: Namaku Pelangi... sebenarnya aku sekolah hanya mengikuti kehendak ortu. Aku sendiri sebenarnya sudah bosan, karena sekolah pelajarannya begitu-begitu saja.  (meniup lilinnya) . Pelangi Dua: Namaku Pelangi... pada awalnya aku semangat mengikuti pelajaran. Lama-lama semangatku memudar. Teman-teman selalu menggantungkan diri padaku. Mengerjakan tugas, piket, dan kadang ulangan harian. Aku meras...

PERJUMPAAN DI TEPI JALAN

PERJUMPAAN DI TEPI JALAN:  MEMBACA RUANG BER-ADA  (oentoek semarang, kota tertjinta oentoek emka, teman-teman tertjinta)  Karya :  Teater Emka  Para pemain:  Super-Man  Pandanaran  Laki-laki  Perempuan  Orang-orang  Babak I  Sebuah ruang, sebuah jalan (di-mana-mana, di-manapun). Orang-orang berlalu-lalang, merasa harus menghilang. Orang-orang membawa barang. Bergegas. Berlari. Bertopeng. Ada yang tertinggal. Kelupaan. Saya juga lupa, apakah hari itu siang atau sudah petang. Yang jelas, jam terus berdentang dan kaki masih berlari. Seperti ribuan derap sia-sia, suara-suara itu menyembul sebagai “kegelisahan yang hening” lalu menghunus keberadaan kita.  Gemuruh, di antara senyap di sana dan senyap di sini. Hening, di antara gemuruh di sana dan gemuruh di sini. Lamat terdengar tembang mengalun, mengajak kita meronta.  Koor  Kang ingaran urip mono mung jumbuhi...